Genyo.id | Sejarah Asal Mula Kayangan Api Bojonegoro – Kayangan Api adalah merupakan sumber api abadi yang tak pernah padam atau mati sampai sekarang ini, Lokasi kayangan api sendiri terletak di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa timur, Indonesia.

Kayangan Api Bojonegoro

Kayangan Api Bojonegoro

Menurut cerita warga yang dudah turun temurun, dahulu terdapat seorang pembuat benda pusaka tepatnya pada zaman Kerajaan Majapahit yang bernama Mbah Kriyo Kusumo. Setelah bertahun-tahun membuat benda pusaka di perkampungan, Mbah Kriyo Kusumo kemudian bertapa dan tirakat ditengah hutan. Dia membawa api dan menyalakan-nya di bebatuan, tepat di sebelah tempatnya bersemedi. Api itulah yang menyala sampai sekarang dan menjadi cikal bakal Wisata Kayangan Api di Bojonegoro.

Sumur Blekutuk

Selain terdapat Kayangan Api yang apinya abadi , di dekat sumber api dibagian barat terdapat kubangan lumpur yang berbau belerang yang biasa di sebut warga setempat dengan Sumur Blekutuk. Menurut kepercayaan, pada saat itu Mbah Kriyo Kusumo masih menekuni kegiatan sebagai pembuat alat-alat pertanian dan pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain sebagainya.

Mbah Kriyo Kusumo

Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pande ini berasal dari Kerajaan Majapahit. Terdapat bukti historiys yang cukup penting yang menguatkan kayangan api, yaitu dengan ditemukan-nya 17 prasasti lempeng tembaga yang berangka 1223/1301 M.

Prasasti

Penemuan prasati di Desa Mayangrejo, Kec Kalitidu pada 12-03-1992 tersebut berbahasa Jawa Kuno. Menurut penelitian sendiri prasasti berasal pada zaman Raja Majapahit I yaitu Kertarajasa Jaya Wardhana. Isi dari prasasti tersebut berisi pembebasan desa Adan-adan dari kewajiban membayar pajak dan juga ditetapkan-nya daerah tersebut sebagai sebuah sima perdikan atau swantantra.

Penghargaan ini dipersembahkan oleh Raden Wijaya kepada salah satu rajarsi atau (pungawa) atas jasa dan pengabdian-nya yang besar terhadap Kerajaan Majapahit pada saat itu. Dan rajarsi tersebut tidak lain adalah Empu Supa yang lebih masyur dengan sebuatan Mbah Pande.

Menurut cerita, api yang ada di kayangan api ini hanya boleh di ambil jika terdapat atau ada upacara yang penting seperti yang telah dilakukan pada masa lampau, seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X dan untuk mengambil api lewat suatu prasyarat yaitu selamatan atau wilujengan dan tayuban dengan gending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusumo.

Oleh sebab itulah, ketika gending tersebut di alun-kan dan di tari-kan oleh waranggono yaitu (penembang lagu jawa) tidak boleh ditemani oleh siapapun. Kepercayaan ini dipegang teguh oleh masyarakat setempat pada acara ritual pengambilan api tersebut juga dilakukan. Terlebih pada saat pengambilan api PON yang pertama dilakukan di pimpin oleh tetua masyarakat yang dipercaya pada saat itu. Sementara untuk prosesi tersebut antara lain meliputi, Asung sesaji (“menyajikan sesaji”) dan dilanjutkan dengan tumpengan (“selamatan”).

Pada hari-hari tertentu terutama pada hari Jum’at Pahing banyak orang berdatangan dan berbondong di lokasi kayangan api untuk maksud tertentu. seperti supaya usahanya lancar, bisa mendapat jodoh, mendapatkan kedudukan dan bahkan ada yang ingin memperoleh pusaka.

Acara Tradisional

Acara tradisional masyarakat yang dilaksanakan salah satunya adalah taradisi Nyadranan atau (bersih desa) yaitu sebagai perwujudan terima kasih dan wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa.